Terhitung kurang lebih enam bulan sejak posting terakhir 24 Agustus 2011 “Berhenti Menghitung Hari”, setelah itu hari-hari seakan semakin terhenti. Banyak kejadian tak menyenangkan dalam kurun waktu itu. Satu moment yang layak untuk diingat hanya hari Minggu 27 November tahun lalu.
“yes, i do” tiga kata yang sakral bagi saya. Hari itu saya resmi tunangan, with the one who i really love. Bahagia? Alhamdulillah iya. Campur aduk rasanya. Antara percaya dan tidak. One step closer menuju tujuan kami. Waktu berjalan begitu cepat saat itu. Tangis haru tak tertahankan terutama dari pihak keluarga saya, Ayah dan semua anggota keluarga, teringat akan almarhumah Ibu saya yang tak bisa hadir menyaksikan kebahagiaan anak pertamanya. Namun saya percaya beliau ada disana. Senyumnya, doanya, suaranya, kebahagiannya.
Mungkin bagi kebanyakan wanita dewasa, tunangan dan menikah menjadi hal yang lumrah. Namun untuk saya, ini sebuah lompatan pemikiran yang besar. Pada akhirnya ada seorang laki-laki yang menyadarkan saya, meyakinkan hati saya untuk menikah. Sebelumnya? menikah sama sekali tak ada dalam benak dan impian saya sebagai wanita biasa. Namun sekarang keyakinan itu tumbuh seiring kesabaran dan rasa sayang yang diberikan secara perlahan oleh laki-laki yang berhasil merebut hati saya ini. Beberapa orang bilang, saat menikah nanti tak ada lagi mabuk cinta, tak selalu ada rasa, lebih akan dibutuhkan logika. Tapi buat saya rasa dan logika itu imbang beratnya. Kami masih bertahan sampai hari inipun berkat besarnya rasa. Pemikiran ini muncul begitu saja memang, mungkin karena latar belakang keluarga kami sama-sama dari keluarga harmonis yang penuh cinta. Dimana orangtua kami sama-sama berpisah karena kuasa Tuhan. Harapannya pun sama, hanya maut yang boleh memisahkan kami. *kecup cincin di jari manis kiri. hehehe. Amin.
Dan selanjutnya………………hectic hectic hectic
Officially, saya mulai menghitung hari lagi. Thanks God!!

